Sitting with Grief

God has you in HIS keeping, I have you in my heart.

Teringat sebuah kalimat, jadi manusia itu kalau ga ditinggalkan ya meninggalkan (ini konteksnya meninggalkan dunia selamanya ya). I am fully aware, that one day I will experience it too. I think every one of us will definitely experience death.

Jadi, pas covid lagi parah – parahnya dan aku ada di pulau yang berbeda dari keluargaku, I took a class on how to handle grieving by ISAMS Singapore. Alasannya sih, aku pasti butuh dan aku mau tau cari handle grieving yang baik itu bagaimana. Puji Tuhan, we survived the COVID. Tapi kali ini, aku ga lagi mau share pengalamanku ber COVID ya. Aku mau berbagi pengalaman on how I sit with my grief when my dad passed away.

So there. Last September 2024, my father went home to heaven. Dan, semua teori yang aku pelajari di kelas grieving, entah nyangkut kemana. Meski ada beberapa hal yang aku ingat betul, tapi 80 % udah pasti lupa. Namanya juga shocked. Tentu saja awalnya sangat berat. But yes, how would you feel if you lost your most beloved one? what would you do? There you go, let me tell you my story.

14 September 2024 at 6 am, my dear brother called me informing me that our father passed away. I could hear his sobbing, I could hear my mom acknowledging how great my dad was in his life in front of his dead body, those were the things I could see clearly from my phone screen. I was 600 km away from my parents’ house when it happened.

Yang aku lakukan pertama sesuai teori yang aku pelajari, deep inhale long exhale dan berterima kasih kepada Tuhan tentang hidupnya di hidupku dan semua hal yang indah yang aku alami karena memiliki Ayah yang luar biasa kututup dengan Doa Bapa Kami. Packing was the next thing. I did not cry at all when I heard that. Not yet. But then, I cried when my husband hug me. I felt so fragile but at the same time I had to be tough, as i knew that we had long journey to be home. That’s the first thing that I remember from the class, ‘Thank the soul and send him good prayer’. So, I did.

Puji Tuhan, perjalanan ke Salatiga terbilang lancar. Tidak ada macet Baluran, tidak terkena pawai padahal itu hari Sabtu – masih musim pawai dan long weekend. Sepanjang perjalanan, aku menghindari menerima telfon dari sanak saudara dan sahabat, I just received phone call from my brother. Alasannya sepele sih, pasti akan ke distract dan malah jadi mellow. Juga, kalau adikku mendadak telfon dan aku sedang sibuk malah bingung. So ya, i set priority, blood related family comes first.
Aku menghindari percakapan dalam pikiran selama di perjalanan. :’Lho, kok aku ditinggal’ , ‘Lho kok ga nunggu aku’, ‘Nanti aku gimana’. Karena ya, I realized : he’s gone. Dan, aku berkomitmen mau mengantarnya dengan bahagia. Sepanjang perjalanan, suamiku dan aku hanya mengingat kebaikannya, kapan terakhir aku video call , dll.

Upon my arrival, I saw my relatives from other towns were there already, my friends were waiting for me, neighbors were helping, my mom was there in front of my father’s coffin, my brother saw and hug me crying, we were sharing the same grief. Sedih ya? Banget. Tapi kami sadar, kami bersama sama. Kami mau melewati masa – masa duka ini bersama – sama.

The next thing, I remember from the class was the hardest thing in the funeral. Yang pertama adalah ketika peti ditutup dan yang kedua adalah ketika peti diturunkan ke liang kubur. Literally, I puas – puasin melihat wajah Ayah, memegang tangannya, mendoakannya, mengucapkan terima kasih dan cinta banyak – banyak. I didn’t want to miss the moment, most of the time I stood next to the coffin while it was still open. Indeed, when the coffin was closed, my heart broke – I couldn’t stop the tears. Realizing that I could not see him again, was really painful. Yet the sentences echoing my mind : ‘God has Ayah in His keepings, I have him in my heart. Puji Tuhan, ibadah berjalan dengan lancar. Sampai di pemakaman, aku tahu bahwa ini akan terberat lagi untuk melihat petinya diturunkan, tapi aku berkomitmen bahwa aku mau mengantar Ayah dengan indah dan penuh cinta. Jadi, aku berdiri tepat di samping liang dan melihat prosesinya. Mempercayai bahwa Ayahku telah mengakhiri pertandingan yang baik , Ayah telah mencapai garis akhir dan Ayah telah memelihara iman – Kuucapkan kalimat ini sembari menabur bunga sebelum peti ditutup dengan tanah. Aku bangga dan bersyukur memiliki Ayah yang luar biasa. Dua hal terberat akhirnya terlewati dengan baik, Puji Tuhan.

Akhirnya, ibadah pemakaman sudah selesai, Ibadah penghiburan juga berakhir di hari ketiga. Saudara, sahabat dan handai taulan mulai kembali ke kota masing – masing dan melanjutkan kehidupan ini.
Trust me, it was hard to even get up when everybody went home. Namun, dua hal ini aku sadari betul : Yang pertama tentang otoritas Tuhan. Kehidupan dan kematian adalah otoritas milik Tuhan. Jadi, aku harus menerima otoritas Tuhan itu dengan baik. Ini ada pada bagian : ‘God has my father in HIS keeping.’ Yang kedua adalah tentang rindu yang masih menjadi milik manusia. Aku memiliki kenangan indah itu. dan ini adalah bagianku : I have my father in my heart.

Kusadari berduka bukan hanya aku sendiri, tapi ada mamaku, adikku dan juga aku. Kami harus bersama – sama. Menguatkan satu sama lain, terutama mamaku, dan juga melewati ini bersama sama. Kami mulai beberes rumah, memasak bersama, recalling the good memories together dan hal itu kami lakukan selama 40 hari. Sebisa mungkin, bareng – bareng. Oh ya, aku juga mendengarkan podcast tentang kehilangan oleh Aprishi Allita, ini linknya.

Singkatnya (didengerin sendiri ya gaes), bola tidak lebih besar dari kotak. Bolanya ga akan hilang kok, ya segitu – gitu saja, jadi tugas kita adalah bikin kotaknya jadi lebih gede. Dan kalau sedang merindu, ya rindu aja. Biasanya kalau lagi kangen, aku lihat foto – posting – kemudian berterima kasih atas hidupnya dan kututup dengan Doa Bapa Kami.

Aku ikhlas.
Kepergiannya indah. Hidupnya luar biasa menginspirasi bagi banyak orang yang mengenal pribadinya dari dekat. Aku bersyukur memiliki Ayah yang penuh kasih, open minded, lucu, dan sangat perhatian.
I have you in my heart Ayah, I love you, always.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.