As the year comes to a close, there’s no better time to stop and reflect on the personal growth we’ve undergone in the past months. This moment of reflection can be both fulfilling and enlightening, allowing us to gain a deeper understanding of our journey and the lessons we’ve learned along the way. Whether it’s been a year of achievements, struggles, or a mix of both, looking back gives us the opportunity to truly appreciate how far we’ve come.
Tahun 2024 sudah hampir berakhir dalam hitungan hari. Betul. Rasanya kali ini, waktu cepat sekali berlalu. Sebulan terakhir ini ada baiknya kita sempatkan waktu untuk merenung dan ber – refleksi tentang apa yang telah dilalui sepanjang tahun 2024 ini. Pelajaran apa yang telah kita dapatkan? Tantangan apa yang telah kita lalui? Untuk apa saja kita paling bersyukur?
2024 ini adalah tahun yang campur aduk rasanya. Semacam perjalanan menemukan kembali diri sendiri di versi yang lebih baik meski melewati momen gado – gado dari kehilangan, frustrasi, bangkit dan merayakan sukacita setiap harinya. For me, those tough moments often hold the most valuable lessons, even when they don’t feel like it at the time.
Salah satu yang membuatku bertahan adalah gratitude journal. Semacam menulis diary (halo apa kabar anak tahun 80 an) tapi kali ini menulis tentang rasa syukur yang dialami di hari itu. Gratitude has the power to shift our focus from what’s lacking or challenging to what’s positive and fulfilling in our lives. Karena secara sadar kita akan menghargai hal – hal sekecil apapun. Sehinggat bisa menciptakan pola pikir yang mendorong kebahagiaan, semakin positif dan tentu saja emosi menjadi lebih seimbang.
Gratitude Journaling Journey
Jaman aku masih SD (tahun 1987) belum gencar tuh gratitude journal. Yang ada, hobi nulis diary yang ada kunci gemboknya (raise your hand – if you experienced this!) Somehow, menulis diary ataupun gratitude journal itu bukan hanya sekedar mencatat tentang apa yang kita syukuri hari itu tapi lebih melatih fokus untuk hal hal yang baik yang terjadi dalam hidup kita. Ada penelitian yang mencatat bahwa berlatih gratitude journal bisa mengurangi stress, meningkatkan kebahagiaan dan memperbaiki kesejahteraan secara keseluruhan. Sederhana bukan? Ya. namun ampuh untuk mengubah perspektif dan melihat sesuatu hal yang terjadi di hidup kita dengan cara yang berbeda.
Dengan mengubah perspektif itulah kita bisa memusatkan perhatian pada aspek positif dalam hidup yang secara signifikan meningkatkan suasana hati kita. Dengan kata lain, kebahagiaan meningkat.
Kebahagiaan yang meningkat menjadikan stress berkurang. Tentu saja karena rasa syukur dapat membantu kita mengubah perspektif dan menghargai hal – hal baik dalam hidup kita , bahkan selama masa masa sulit.
Stress yang berkurang membuat tidur menjadi lebih baik (setuju atau setuju banget?). Menyatakan rasa syukur sebelum tidur itu menenangkan pikiran sehingga kita bisa mempersiapkan tidur yang lebih nyenyak. Tentu saja, yang menurutku berdampak sekali adalah memiliki hubungan yang lebih baik. Dengan rasaya syukur dapat memperdalam how we feel for the people in our lives, appreciate their existence and strengthen our bounds with them.
Jadi, mulai dari mana nih kalau mau menulis gratitude journal?
1. Have a dedicated notebook or journal
Percaya ga percaya, tapi memiliki journal tersendiri tentang gratitude itu bikin rajin nulis sih – oh well, at least it works for me.
Foto di bawah ini adalah koleksi gratitude journalku dari masa burnout tahun 2018 dulu – I always say, gratitude journal helps a lot (at least for me) sampai hari ini -. Dulu, gratitude journal dari typo stationery adalah favoritku. Tentunya karena sudah ada prompt dan templatenya yang jelas. Sila check typo disini. Yang satunya adalah well being journey dari wangsa jelita. Aku suka sekali karena ada penjelasannya mengenai well being. Bukan hanya sekedar gratitude journal sih ini, tapi lebih lengkap dari itu. Wangsa Jelita Well Being Journey disini. Tahun ini, aku pakai self care dari flying tiger copenhagen yang menurutku simple tapi cukup sekali untuk mengekspresikan rasa syukur.



2. Set a time
Well, I overheard that consistency is the key. Bagus banget untuk memilih waktu yang konsisten setiap hari untuk menulis di jurnal. Bisa di pagi hari untuk memulai hari dengan pikiran positif, atau sebelum tidur untuk merefleksikan momen-momen syukur sepanjang hari.
Aku lebih memilih di malam hari sebelum tidur. Again, rasanya sangat menenangkan untuk melihat betapa banyak hal hal baik yang sudah dilewati on that particular day.
3. Start small and simple – be specific
Ga perlu nulis panjang sih. Biasanya minimal aku akan mencari tiga hal yang aku syukuri. Dulu, aku mulai dari hanya menyebutkan saja. Seiring dengan semakin sering aku journaling. I found myself to write more specific and I always enjoy myself writing the gratitude journal. Terkadang, aku akan menulis ‘Hari ini menyenangkan sekali karena bisa bertemu dengan teman teman Srimulih, ngobrol sampai hampir seharian penuh, ketawa dan tentu saja menghabiskan waktu bersama. Aku senang melihat teman – temanku baik – baik saja bersama keluarganya.’ Atau bisa juga ‘Memulai pagi hari ini dengan berjalan sepanjang jalan Tunjungan. Senang rasanya menghabiskan waktu pagi hari berolahraga dengan suami di tempat yang menyenangkan dan kemudian sarapan bareng in a random place. I am so thankful.’ Juga misalnya ‘Enjoying Starbucks Reserve Surabaya with bestie and having a very wonderful chit chat. How I love to spend time with her. Hot caramel Macchiato never fails especially when it’s 50 % off.‘
Begitu saja, sudah tiga hal di hari itu yang disyukuri kan?



4. Focus on the positive – reflect on growth
I know this is tough. Tapi di saat yang sulit, tetap dicoba untuk menuliskan satu hal yang bisa menumbuhkan rasa syukur. When my dad passed away, the only thing i could think to thank for is his wonderful life and knowing that he is my dad. Dan aku sangat bersyukur memiliki ayah yang amat sangat luar biasa di perjalanan hidup ini. And again, that is also fine. Kapan – kapan ya, mari bercerita bagaimana melewati duka.

5. Be consistent – make it a habit
Jika kita menulis secara teratur, unconsciously it will make a habit. Hanya dengan menyisihkan beberapa menit bahkan sebelum tidur ataupun sebelum memulai hari, kita akan memiliki kebiasaan mengucap syukur. Nantinya, di penghujung tahun kita bisa ber- refleksi terhadap pertumbuhan diri kita sendiri. Dengan meninjau gratitude journal kita, mungkin kita bisa menemukan momen momen pertumbuhan diri yang indah, meski terkadang challenging namun penting untuk diingat bahwa pertumbuhan diri sering kali berawal dari rasa gratitude in disguise.
Merenungi perjalananku tahun ini, pertumbuhan sering kali tidak selalu terlihat dalam perubahan besar. Momen – momen kecil yang terjadi setiap harinya dan aku syukuri ternyata bisa menciptakan pola pikir yang lebih positif dan aku pun bisa lebih appreciate terhadap segala hal yang terjadi di dalam hidupku.
Jadi bagaimana? Siapkah untuk melihat kembali dan merenungkan kebaikan – kebaikan Tuhan di tahun ini? Dan siap jugakah untuk menuliskan kebaikan – kebaikan Tuhan di gratitude journal kalian di tahun 2025?
Kota Malang, penghujung 2024.