Clutter is caused by a failure to return things to where they belong. Therefore, storage should reduce the effort needed to put things away, not the effort needed to get them out. We should be choosing what we want to keep, not what we want to get rid of. The true purpose of a present is to be received. – Marie Kondo
Ketika memulai declutter, sering kali terasa bingung. Semacam, ‘Mana ya yang harus di declutter duluan?’ Ga jarang, jatuhnya jadi eman. Kenangan akan barang mulai menyeruak. Seakan menolak untuk disingkirkan. Akhirnya, resisten terhadap ide declutter itu sendiri.
Namun, pilihan hidup untuk nomaden bersama suami sampai dia pensiun, memaksa untuk memulai declutter. Agar supaya, tidak terlalu banyak barang yang dikirim pakai ekspedisi. Jatuhnya mahal euy.
Pernah dari Maumere ke Salatiga habisnya bisa 18,5 juta jaman tahun 2019. Sungguhlah wow kala itu.
Sejak 2019, pindah ke Makassar, aku mulai belajar sedikit sedikit tentang Marie Kondo, Minimalist Living, Frugal (Mindful) Living dan kemudian mencoba menerapkan apa yang tepat dengan situasi dan kondisiku saat ini, Ibu Rumah Tangga yang mengikuti suami kerja nomaden.
Aku membuat dimanapun kami tinggal senyaman mungkin. Dalam artian, irit tapi masih nyaman. Meski kami di kota kecil, apapun bisa terpenuhi dengan sewajarnya. Meminjam istilah jaman now, mindful living.
Kali ini, aku mau sharing tentang apa saja sih yang biasanya aku declutter beserta gimana caranya. If it resonates you, feel free to do the same. Tapi kalau semisal kalian punya ide lebih baik, tulis di kolom komentar ya!
- Pakaian yang jarang banget dipakai
Iyah, ini tuh jatuhnya jadi banyak banget. Belum selalu harus ada dresscode ini itu. Pakaian jadi numpuk. Terkadang bahkan lemari pun ga muat. Di aku, kalau harus pindah lagi, jadi menambah space kardus gudang garam atau container.
Biasanya, aku akan declutter pakaian yang paling engga minimal udah 1 tahun ga aku pakai. Aku masukin box dulu. Kenapa ga langsung disalurkan? Kadang ada keinginan untuk pakai lagi. Jadi, di waktu declutter berikutnya aku bisa menanyakan lagi. Ini masih bisa dipakai kah? Masih pengen aku keep kah? Kalau masih pengen aku keep, aku akan tetap masukkan box. Kalau rasanya lebih bakalan spark the joy buat orang lain yang pakai, aku masukkan ke box yang lain. Jadi, aku ada 2 boxes ya.
Nah, box isi pakaian yang nantinya bisa spark the joy ke orang lain biasanya akan aku donasikan ke grup – grup paduan suara / gereja / saudara yang bisa dengan senang hati merecycle nya. Entah akan dijadikan usaha dana atau bagaimana, kuserahkan ke mereka sepenuhnya. Lumayan sih tiap tahunnya, lemari tidak terlalu penuh. - Broken Objects / Broken Kitchen Utensils
Kalau alat elektronik yang bisa dibetulkan lagi sih, biasanya aku keep untuk dibetulkan. Tapi kalau memang sudah tidak terselamatkan, ya sudah. Mungkin sudah waktunya berpisah. Gelas atau piring brocel gitu biasanya juga ga aku keep.
Kalau gelas brocel kan ya kalau buat minum nanti kena mulut malah bisa bikin luka. Jadi, ya. meski banyak kenangannnya, aku usahakan untuk dikeluarkan dari rumah. - Sepatu yang sudah ga dipakai dan rusak
Sepatu itu penting banget buat nopang tubuh. Jadi, memakai sepatu yang nyaman di kaki dan pas itu penting banget. Karena ya, kalau salah pakai sepatu bisa bikin salah urat dan malah bad mood.
Kebayang kan, kalau makai sepatu yang harusnya sudah dipensiunkan?
Jadi, ya sepatu ini hal berikutnya yang aku coba declutter. Mana yang bisa aku keep, akan aku keep.
Dan, penting banget bawa sepatu bersih di dalam rumah lho. Karena energi akan jadi enak.
Sebenernya masih banyak yang bisa diexplore untuk di declutter. Tapi, sebagai seseorang yang belajar untuk declutter, aku memulai dari tiga itu dulu. Selain tentu saja chat whatsapp yang udah bertahun tahun harusnya di declutter juga ya. Supaya ga terlalu memberatkan hape.
Jadi, gimana nih cara kalian declutter? Share dong di kolom komen.
Happy declutter!
