Ibuk – Ibukkk!
Sehat, Cerdas, Cantik dan Bahagia
Ga pernah sih kepikiran dalam rencana hidup masa mudaku untuk giving up my job and joining this uncommon road.
Yep. I called this an uncommon road. Being a full time housewife for a husband yang kerjaannya pindah pindah dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
Dulu, arisan ibu – ibu itu aku anti banget. It’s a traumatic for me karena menurutku kumpulan ibu – ibu itu ga lepas dari mulut julid dan bahkan komentar maha benar netijen pun lewat. Sorry for this, but I experienced bitter things – an unforgettable one – dengan yang namanya arisan Ibu – Ibu. For me, it used to be a bullshit for a woman empowers other woman. It was just a jargon, back then.
It was, dulu.
Time has changed. It shaped me to a different person. Arisan Ibu – Ibu jadi salah satu hal yang mau ga mau aku harus ikuti. Gabung dengan Ibu – Ibu, spending time with them. I shifted my perspective. Why not becoming someone that I like di kumpulan Ibu – Ibu itu? That was the moment, I decided to become myself.
Maumere, Juli 2019.
Mengumpulkan Ibu – Ibu dan ngobrol ternyata menyenangkan loh. Texting them. Asking their daily life, dan voila! Kumpulan Ibu – Ibu pertama ternyata menyenangkan. I was amazed dengan Ibu – Ibu ini. Balancing life antara work and daily life aja ga gampang. Tapi, Ibu – Ibu ini luwes banget jadi istri, ibu, kadang juga karyawan dan masih aktif di organisasi ini.
Ga hanya itu, we brought experience to the next level. Karena rata rata sama sama pertama kali merantau, akhirnya kepikiran sempat bikin children centre seminggu sekali di Maumere. Gokil.
Tapi batal karena udah diburu SK.
My personal thought waktu itu, pengen bawa community service ex sekolah tempat aku mengajar untuk bikin perpustakaan. Ternyata resigning was not a bad idea. Indeed, it was great! But then again, our nomad life began again. Loh kok kaya judul film.
We were assigned to another island. I hate to say goodbye to Flores, but hey! Celebes was another story!
Makassar 2019 – 2022
Pandemic hit the country.
It brought me to the next level of personal development and growth. Lots of online courses offered, lots of business opportunities opened, lots of job vacancies created. I was one who craved for another digital things. What’s next was my tagline, from learning new language and becoming a content creator. I loved to do the content and had fun with Canva.
And then, that was the time when I joined pengurus harian, Makassar Chapter.
Asik lo bebikinin content pakai Canva, it brought me to the next level of creativity using Canva. And I am contented.
Belajar banyak banget dari yang kalau sekarang aku scroll postingan canvaku jaman itu sampe yang sekarang, aku bakalan ngakak ga brenti brenti.
Makassar has lots of events.
Tapi itu yang bikin aku amazed with the housewives in pengurus harian.
Ada loh yang anaknya itu homeschool, no ART, loves cooking and do the housechores masih aktif di organisasi.
I was like. What. the. heck.
Udah gitu ga ada tuh bayangan tertekan atau mengeluh, ngalir aja gitu. Semua dilakukan dengan penuh sukacita. Kalau lagi kumpul, ga ada tuh julid dan berkomen ala netijen maha benar. Malah yang ada ngakak mulu, ketawa mulu, plesetan kata kata mulu dan melakukan hal hal yang kadang ga penting.
Itu yang bikin aku jatuh hati.
Sebuah opini pribadi yang aku kira benar ternyata salah. Arisan Ibu – Ibu, ga melulu soal julid. Mungkin mereka itu cuman oknum.
Dan ternyata tanpa aku harus berusaha keras untuk jadi diri sendiri, bersama mereka, aku jadi diri sendiri.
Dandan tampil seperti layaknya yang aku mau tanpa harus menjadi seperti yang mereka mau dan diterima dengan apa adanya.
Ngomong apa aja yang aku mau dari non sense, garing sampe serious dan diterima dengan apa adanya.
Ternyata circle yang menyenangkan di Ibu – Ibu, ga perlu membuat kita menjadi orang lain.
Ga perlu menyenangkan semua orang,
Ga perlu menjadi seperti orang lain.
dan cukup menjadi diri sendiri, apa adanya.
Surabaya 2022 – 2023
Kota besar. Kota yang memiliki 37 malls. Dimana orang orangnya lebih sering ke malls untuk cari ac.
16 bulan di Surabaya dengan segala ceritanya, hiruk pikuk kotanya dan masih banyak lagi pengalaman menarik dengan para housewives ini. No, they are not desperate housewives. They are hopeful housewives..
Ternyata pengalaman dari kota sebelumnya, tidak sepenuhnya bisa dibawa ke kota ini. Ya, tentu saja.
Setiap penempatan memiliki cerita masing masing. Tapi, dari Surabaya aku belajar. Jadilah tetap tulus. Tulus seperti merpati. Karena dengan ketulusan hati, akan menarik mereka yang tulus hati juga.
Dan ya, perjalanan berlanjut.
Tentu saja aku akan selalu bertemu dengan para brilliant hopeful housewives ini. Wish me luck!
