95% of who you are by the time you are 35 years old is a set of memorized behaviors and emotional reactions that create and identity subconsciously. 5% of your conscious mind that is plugged into reality is working 95% of what you’ve memorize subconsciously.
HAH? GIMANA?
Kalau umur udah 35 kita kenapa?
(Ini sambungannya 5% vs 95% – Bagian 1 kemarin ya. Pastikan udah baca duluan sharing 5% vs 95 % disini.)
Di dalam pikiran manusia, 5% nya itu adalah conscious mind. Jadi, kalau masih gampang terpengaruh emosinya buat hal hal yang ga penting, itu sebenernya cuman mempengaruhi 5%. Sedangkan apa yang kita lakukan secara otomatis, termasuk pikiran dan kebiasan kita, itu 95%. Banyak ya?
(Nah, ini adalah sekilas apa yang kita bahas di bagian 1 kemarin.)
Ala bisa karena biasa, dan kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Termasuk didalamnya kebiasaan yang sudah dilakukan selama 35 tahun (atau lebih). Istilahnya sudah sangat mendarah daging. Semacam meskipun berada dalam keadaan tidak sadar (bukan pingsan yaa), tapi kita bisa melakukannya. Contoh sepele adalah menyetir. (Mohon angkat tangan buat yang sering nyetir tau-tau udah sampe dong)
Terus gimana dong, kemudian buat kita-kita yang sudah diatas 35 tahun ini untuk merubah apa yang sudah kita anggap bagian yang biasa dalam diri kita ini? Termasuk, cara berpikir kita terhadap orang lain, kebiasaan kita melakukan sesuatu, dan berbagai macam cara ‘kebiasaan’ hidup kita yang lain?
Memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin untuk dimulai. Kuncinya adalah : know yourself better. (Kenali diri sendiri, your true self, trauma yang dulu pernah ada). Temui diri sendiri di alam bawah sadar, tentu saja caranya adalah bermeditasi. Dengan bisa menemui ‘diri sendiri’ kita bisa kenalan lagi, mengerti diri kita dengan lebih baik lagi. Supaya kita bisa hemat energi dalam menampilkan sisi 95% kita dengan baik. Ga cuman menampilkan ego dan emosi yang sering banget kita tampilkan, ingat ya, bisa jadi ego dan emosi ini hanyalah 5%.
Joe Dispenza juga menekankan pentingnya kita berlatih welas asih (compassion) dan sukacita (joy) selain berlatih meditasi. Dengan banyak berlatih, kita bisa memberi ruang yang lebih untuk personality yang baru.
Nah, meditasi itu seperti apa sih? Sering sekali ada pendapat yang mengatakan, meditasi itu membuat ngantuk dan lain sebagainya. Meditasi itu secara sederhana menyadari diri kita dengan nafas yang kita hirup dan keluarkan pada saat kini (present moment).
Yang harus diinget juga, kalau emosi sedang tidak enak , jangan pernah untuk mengambil keputusan. Saat perasaan tidak enak, tarik nafas panjang, mengambil nafas udara yang baik dan keluarkan rasa yang kurang baik. Mengambil nafas lagi rasa syukur, dan mengeluarkan nafas sembari membayangkan mengeluarkan masalahnya.
Inipun sudah termasuk latihan meditasi lho. Meskipun tidak gampang, tapi ala bisa karena biasa, latihan terus. Usahakan tiap hari 5 menit paling tidak. Sehingga lebih gampang juga untuk mendengar kata hati, lebih santuy, lebih tenang dalam menghadapi apapun.
All is well. Everything happens as it should happen.
Dan semoga dengan memahami hal ini, kita bisa lebih legowo. Bahwa banyak yang sebenernya hanya 5%. It’s not easy, but it’s possible. Ujung ujungnya supaya kita bisa berpikir lebih enak dan tidak membiarkan 5% mengambil alih kebahagiaan kita adalah, kesadaran diri. Mindfulness.
Semoga kita semua bisa hidup dalam kebahagiaan yang hakiki.
Yuk lah, sambil berlatih pernafasan, meditasi kita juga mulai berpusat ke diri kita sendiri.
Namaste.

Lemo, Masamba.
South Celebes, 2020