‘Don’t focus on others, focus on yourself’
– Aprishi Allita –
Baca quote hari ini seakan seperti menyerang, ‘jadi kita ga usah mikirin orang lain gitu?’
Sesungguhnya batas antara self-love dan love for others sangatlah tipis, setipis benang sutera. Sutera lho ini, artinya mahal. Precious.
Jadi, seberapa tipis bedanya? aku sendiri pun tak tahu.
Kapan kita mesti fokus ke yang lain, kapan kita mesti fokus ke diri sendiri, kapan kita mesti ga ngapa – ngapain. Begitulah kehidupan, banyak hal hal tipis yang begitu berharga. Ketika kita salah melangkah, konsekuensinya begitu berharga.
Ahelah.
Namun, jangan sedih dan jangan susah. Ada banyak teori dan ada banyak bacaan yang mungkin bisa memperkaya kita dalam kita mencari batasan. Tentunya kita semua masih manusia, tempatnya belajar. Termasuk di blog ini, kita sedang sama sama belajar. Yuk, belajar bareng!
Konsep 5 % vs 95 % ini aku dengar pertama dari podcast-nya Aprishi Allita, seorang praktisi yoga dan meditasi. Mengutip dari Dr. Joe Dispenza dan Ronan Tang ; keadaan eksternal atau di luar kita mempengaruhi kita sebanyak 5%, sedangkan 95 % sisanya kita dipengaruhi oleh pikiran kita sendiri. WOW bukan?
Betapa dahsyatnya pikiran kita itu. Jadi, ketika kita merasa kita sedang memikirkan diri kita sendiri sebagai alih-alih self love, tapi ternyata hal itu menyakiti orang lain dan kita merasa tidak perlu memikirkan orang lain. Bisa dibayangkankah hasilnya? Terus gimana dong?
When you win, people around you will also win. – itu sudah.
Tapi sebentar yuk, kita bahas dikit saja.
5 % yang dikatakan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi kita ini misalnya : keluarga, teman, pasangan, pekerjaan, makanan yang dimakan. Contoh sepele yang berhubungan dengan ini misalnya : menyampar gelas sampai pecah. Kemudian respon yang keluar adalah : ‘Siapa nih yang naro gelas sembarangan?’
Atau misalnya : sebal dengan teman kerja yang kerjanya tidak maksimal tapi gajinya sama dan naik terus. Nah, perasaan yang timbul karena keadaan di luar kita, itu hanya mempengaruhi 5 %. Ngerti ya?
No one can make you angry, nor anyone can make you happy. Keputusan marah dan bahagia itu BUKAN karena orang lain, tapi karena kita mengijinkan perasaan-perasaan itu datang dan singgah. Singgah ini adalah keputusan kita. Menjadi marah seharian penuh adalah keputusan kita, menjadi marah dan tidak ngomong sebulan penuh adalah keputusan kita, dan tidak ada orang lain yang bertanggung jawab untuk itu.
Karena sebenernya kita sering dihadapkan pada dua pilihan :
1. Biarkan perasaan itu lewat. Terima saja perasaan ga enak itu dan biarkan perasaan kurang menyenangkan itu lewat
2. Ijinkan perasaan itu untuk tinggal.
Pilihan kedua jelas menggambarkan bagaimana kondisi yang harusnya hanya 5 % telah mempengaruhi kita.
Tentu, ada hal hal yang jauh lebih berharga untuk kita ijinkan tinggal.
Misalnya, rasa syukur (terutama) dan energi positif. Energi positif ini bisa dari hal hal baik yang kita lakukan ataupun yang orang lain lakukan untuk kita. There is this saying :
‘Whatsoever things are true, whatsoever things are honest, whatsoever things are just, whatsoever things are pure, whatsoever things are lovely, whatsover things are of good report … think on these things.’ (Hal – hal inilah yang seyogyanya kita ijinkan tinggal. Karena hal- hal inilah yang membuat kita lebih banyak bersyukur dan memiliki energi positif)
Think on these things, adalah 95 % yang mampu mempengaruhi pikiran kita.
Kalau memang begitu, kenapa kita tidak memikirkan hal yang baik-baik saja sih? yang indah-indah saja?
95% of who you are by the time you are 35 years old is a set of memorized behaviors and emotional reactions that create and identity subconsciously.
APA NIH? Tunggu sharing saya berikutnya ya?
Be kind, with your mind.
Be mindful.

Credit : Roderick Crouch
Counsellor Gathering – University of Sydney 2017
Pingback: 5 % vs 95 % – Bagian 2 – A Sharing Page