~ It’s okay not to be okay ~
Entah quotes dari siapa, tapi untuk saya sendiri, sangat mengena sekali.
Pertama kali dengar Toxic Positivity dari Mas Reza Gunawan, waktu ikut kelas Self Healing beliau di Jogja, 2018. Waktu itu kaget ya, hah? bersikap positif itu bisa jadi toxic? Kok bisa? Seriusan?
Well, before I go on, I would like to say : let’s agree to disagree with this.
Karena setiap orang berbeda beda, apalagi kalau berhubungan dengan self love language setiap individu. Bagi mereka yang love language nya adalah words of affirmation, mereka tentu sangat menikmati dan senang sekali apabila mendengar kata kata yang positif dan indah, terutama apabila mereka merasa encouraged dari kata kata yang disampaikan ke mereka.
Oh ya, sedikit bercerita mengenai 5 love language dari Gary Chapman ini, saya sempat membacanya di tahun 2010, tetapi benar benar bisa mengerti sekali bahwa memahami love language masing masing orang adalah ketika saya memasukkan love language sebagai materi kelas life skills saya. Saat itu, orang tua murid bahagia ketika mereka memahami bahasa kasih anak-anak mereka, tidak sedikit dari para orang tua ingin mengetahui bahasa kasih mereka juga. Jadi, kalau kalian mau mengecek love language kalian apa sih, bisa disini ya : Love Language quiz . Kapan- kapan kita bahas betapa powerful nya love language ini.
Balik ke topik, Toxic Positivity, apa sih itu?
Toxic Positivity adalah sebuah konsep dimana setiap orang berusaha untuk selalu positif. Menganggap bahwa menjadi positif adalah cara yang paling tepat untuk hidup. Secara tidak langsung, hanya ber-fokus kepada hal-hal yang positif dan menolak apapun yang bisa memicu emosi negatif.
Loh, bukannya bagus? Ng,, anu.. enggak juga. Wait, let me tell you my point of view dulu..
Ketika kita menyangkal emosi yang kurang menyenangkan, sebenarnya kita membuatnya menjadi tambah besar. Pada dasarnya emotion = energy in motion, semakin kita tahan, dia akan menekan lebih dalam lagi dan bisa menumpuk yang akhirnya punya potensi untuk meledak. Semacam kalau memang lagi sedih ya, nangis aja. Jangan ditahan. Lagi marah, ya channel it well. Lagi lelah dan capek, ya duduk sebentar, minum teh, makan enak, istirahat bentar. Kalau perasaan – perasaan itu udah lewat, kita malah punya energi yang lebih buat meneruskan perjalanan. Saya ingat analogi yang diberikan Mas Reza sore itu, bagaimana sih mengubah botol air minum yang isinya air garam menjadi manis? Hayoo, gimana caranya? Kalau jawabannya dengan menambah gula di botol air minum isi garam, itu akan menjadi oralit. Kecuali sedang diare, ini bukan yang dibutuhkan.
Caranya adalah : membuang air minum isi garam, kemudian dicuci dulu sebentar, baru masukkan air dengan gula. Nanti rasa manisnya baru akan terasa.
Sama sebenernya. Yang dibutuhkan kita terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah KENALI – RASAKAN – ALAMI – IJINKAN. Dengan kita mengenali perasaan yang ada, ikhlas merasakan, mengalami dan mengijinkannya untuk lewat dan berlalu, akan lebih cepat proses kita untuk ‘sembuh’. Sembuh dari apapun itu, bisa lelah badan, lelah hati sakit hati, juga pada akhirnya mampu memaafkan, Nah, pada saat setelah kita let everything go, baru lah kita meng-affirmasi diri dengan hal yang positif. Caranya let go gimana? Caranya biar semuanya boleh semuanya lewat gimana? Ya, dengan mengijinkannya lewat. Mencoba berhenti sejenak, rehat dari semua kegiatan yang dilakukan, dan fokus pada nafas. Try to breathe. B r e a t h e. Fokus pada inhale dan exhale. Tarik nafas panjang dan dalam, lepaskan pelan pelan. Tarik lagi nafas panjang dan dalam, lepaskan pelan pelan. Dengarkan setiap nafas yang masuk dan keluar. Ulangi paling tidak 10 kali. Ini berarti kita memberikan oxygen kepada otak kita. We create space. After all, what we need sometime is just space.
Mencoba untuk selalu berpikir positif dalam keadaan takut, sedih, sakit dan sendiri malah bisa menjadi racun bagi diri sendiri. Sering kali, sebenernya kita butuh untuk tau kapan sih sebaiknya berhenti untuk beristirahat dulu. Tanpa sadar, kita maksain tubuh kita atau memforsirnya untuk terus melakukan sesuatu, padahal tubuh kita mungkin capek, emosi kita lagi ga stabil, lagi sedih, lagi marah. But hey, that makes us human. It’s okay not to be okay. Oleh karenanya, paling baik adalah lebih jujur kepada diri sendiri sehingga tau batasan kita itu sampai mana.
Sering banget kita menemukan quotes : Try harder, keep it going, dan never give up – bukan ga bagus ya – tapi selalulah tanyakan pada diri sendiri, bisa keep going ga? Kalau memang ga bisa, cobalah untuk take a break for a moment. Be true to yourself during the present time, remember the way you are being present is your true present. Give yourself a space. A moment to breathe. A moment to make you energized again.
Penting banget untuk mengerti sampai mana kemampuan diri kita dengan tidak memaksa atau memforsirnya dan berani mengambil jeda adalah salah satu bentuk bagaimana kita mengasihi diri kita sendiri, aka : self love. Kapan-kapan kita ngomongin ini ya…
Engga ada yang salah dengan selalu bersikap positif kok. Bagus malahan kalau dalam keseharian kita, kita bisa bersikap positif secara alami. Ga dipaksa-paksakan. Bersikap dan berpikir positif menjadi bagian hidup kita, itu keren banget sih. Tetapi, apabila kita lelah, tidak ada salahnya juga untuk berhenti dan rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Remember, it’s always okay not to be okay!
Rest if you must but don’t quit.
Namaste!

Picture credit : Pristi Andika
Bondi Beach, Sydney.