Sering ga sih kalau yang kita pikirkan dan yang kita khawatirkan hanya terjadi di pikiran kita? Saya sih ga sekali dua kali, pernah aja. (Mau nulis sering tapi kok katanya harus hati hati dengan apa yang kita perkatakan, ya kan?)
Terkadang kalau terlalu banyak yang saya pikir, yang mungkin hanya terjadi di pikiran saya, saya akan mencoba mencari lawan bicara yang sevibrasi (dalam hal ini seringnya suami saya) supaya paling tidak saya mendapatkan perspektif yang berbeda namun jatuhnya tidak akan memojokkan saya. Karena terkadang, kalau kita curhat sama orang lain, sering kali malah kita dipojokkan dengan kata kata yang jadinya kurang enak didengar.
Dengan mendapatkan cara pandang yang lain, perspektif yang lain, sering kali saya merasa lebih lega. Apabila saya tidak bisa merubah situasi tertentu, saya akan mencoba merubah cara pandang saya, gampangannya sih begitu. Tentu saja hal ini lebih mudah dituliskan dan dibicarakan daripada dipraktekan. But hey, practice makes perfect! Yang penting sih, kita harus tahu ada beberapa hal yang bisa kita kendalikan, namun ada juga yang di luar kendali.
Nah, yang di luar kendali ini yang sering kali kita pikirkan padahal belum tentu kejadian. Lha kita saja tidak bisa mengendalikan situasi kok, kenapa harus dipikirin. Logikanya kan gitu? Karenanya penting sekali kita merubah cara pandang, mencari hal hal yang bisa kita kendalikan. Mencoba berdamai dengan hal hal yang di luar pikiran kita.
Melampaui pikiran berarti sudah bukan saja out of the box. Tapi mengerti bahwa there is no box! Melampaui pikiran bisa saja menjadi lebih mencintai diri sendiri, dengan tidak membebani hal hal yang tidak bisa dikendalikan. We need to know where our personal power is, to be controlled or to control.
Apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, pendapat kita, perawatan diri kita, pikiran kita, tindakan kita, apa yang akan kita makan, batasan batasan yang kita terapkan pada diri kita, bagaimana penampilan kita, dengan siapa kita bergaul, pakaian apa yang kita kenakan, adalah sedikit dari banyak hal yang ada dalam kendali kita, our personal power.
Ijinkan saya mengakhiri tulisan saya sore hari ini dengan :
You are a hero for yourself, use your personal power.
Picture Credit : Anisti Riris (2016)
Twelve Apostles
Melbourne, Australia