Ah, saya lupa judul filmnya. Tapi adegannya masih membekas di ingatan saya biarpun saya yakin sudah lebih dari satu dekade saya menonton film itu.
Bagaimana tidak, adegan itu membuat saya memikirkan banyak hal, termasuk cara pandang saya terhadap segala sesuatunya.
Jadi ini hanya sepotong adegan dari sebuah film ya, laki laki besar itu membawa anak perempuan (atau apabila kebalik jenis kelaminnya, maafkan) ke tengah jalan raya yang sibuk. Di jalan raya yang sibuk itu yang mampu dia dengar adalah klakson mobil yang bersahut sahutan, orang orang yang lalu lalang, dan beberapa orang yang berteriak karena dia di tengah jalan. Juga asap mobil dimana mana.Dia gemetar dan hampir lunglai, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Setelahnya, laki laki itu membawanya ke atap gedung. Memastikan bahwa dia tidak akan jatuh, tapi memintanya melihat jalan yang tadi dilihatnya. Memintanya untuk menghirup udara segar dan menanyainya tentang perbedaan yang dialaminya.
Tentu saja gadis itu berkata, ‘Di atas gedung ini, aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, bisa lebih tenang dan bisa lebih berpikir. Di bawah tadi, aku tak mampu.’
Hal ini mengingatkan saya tentang 3 Architectural Perspectives, Bird’s View, Man’s View dan Worm’s View.
Tapi saya mau bahas dari Worm’s View dulu. Coba kalau kita melihat seperti cacing, segala terlihat besar, mengerikan dan seperti monster.
Kemudian, Man’s View. Apa yang terjadi kalau kita melihat dengan tinggi manusia kita? Kadang kita tidak bisa melihat apa yang ada di belakang dari orang yang di depan kita, atau kita bahkan tidak bisa melihat apa yang ada di belakang kita. Kita hanya melihat dari kacamata kita, dari apa yang bisa kita lihat.
Nah yang terakhir ini yang sedang dalam pelatihan, practise makes it as a good habit. Bird’s View. Bagaimana cara pandang kita dari atas. Bisa dibayangkan kalau kita melihat segala sesuatunya dari atas. Pengertian dan pemahaman bisa lebih didapat, background sebuah budaya lebih bisa terlihat, akar segala keruwetan lebih bisa terurai.
Ya, saya masih belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang Bird’s View. Bagaimana dengan anda?

Oh ya, ini sedikit cerita mengenai perjalanan saya ke Tanjung Kajuwulu, Maumere.
Ketika saya sudah sampai di puncak bukit, saya bisa melihat dengan jelas lautan yang biru, dan sejauh mata memandang, lukisan Tuhan yang indah itu, nyata.
Pingback: Eat a lot of good food and be happy! – Anisti's Page