Menjadi guru adalah lebih dari sekedar profesi yang hanya mengajar namun menjadi figur yang menjadi panutan, digugu dan ditiru. Karenanya, segala tindakannya bisa menentukan kepribadian murid yang dididik. Lebih lagi pengetahuan yang dibagikan bisa membentuk pandangan murid tentang jalan kehidupan yang akan dipilihnya. Hal hal inilah yang menjadikan profesi ini begitu istimewa. Seperti yang terpatri dalam jiwa pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, dimana guru berada di depan menjadi teladan (ing ngarso sung tuladha), di tengah membangkitkan semangat (ing madya mangun karsa), dari belakang mendukung, (tut wuri handayani), lebih lagi mampu menyentuh jiwa murid – muridnya. Seperti yang Emma Goldman pernah menuliskan :
No one has yet realized the wealth of sympathy, the kindness and generosity hidden in the soul of a child. The effort of every true education should be to unlock that treasure.
Proses keberhasilan pembelajaran selain didukung oleh lingkungan, kondisi belajar dan pengetahuan awal siswa, juga melibatkan pembentukan ‘makna’ oleh siswa dari yang telah mereka dengar, lihat dan juga dilakukan. Hal ini menjadikan tuntutan pendidikan berubah, sehingga guru memerlukan strategi khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana anak dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Tentu saja hal ini semakin menambah variasi metode pembelajaran yang ada di dunia pendidikan saat ini. Seperti yang umum dilakukan, metode ceramah dimana metode ini dikatakan sebagai metode yang paling efektif dalam menyampaikan informasi. Kemudian, untuk memudahkan pemecahan masalah, metode diskusi sering kali diterapkan. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Dan masih banyak lagi seperti metode pemberian tugas, tutorial, experiment, demonstrasi karya wisata dan yang sedang hangat – hangatnya saat ini adalah cooperative learning.
Metode pembelajaran cooperative learning ini menjadikan warna tersendiri dalam dunia pendidikan saat ini. Falsafah yang ada pada metode pembelajaran ini adalah homo homini socius, manusia adalah makhluk sosial. Siswa diajarkan untuk lebih bergotong royong dengan sesama siswa. Penekanan bukan hanya pada kerja kelompok melainkan pada struktur yang ada dalam kerja kelompok ini. Johnson & Johnson (1993) menuliskan lima unsur pokok yang ada yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Interaksi yang mungkin terjadi karena cooperative learning ini bisa membuka hubungan ketergantungan efektif dan positif antar anggota kelompok yang tentu saja hubungan kerja positif ini mengarah pada persepsi positif yang dapat dilakukan oleh peserta didik sehingga mampu mencapai keberhasilan belajar karena partisipasi dari setiap anggota kelompok.
Dengan pembelajaran model ini , murid lebih mengembangkan nilai nilai afektif yang ada hal ini selain bisa mengexpose juga memberikan rasa dan warna tersendiri bagi pendewasaan karakter murid. Alternatif menarik ini bisa mencegah keagresifan maupun keterasingan dalam suasana kelas tanpa harus mengorbankan aspek kognitif. Tentu saja, ketika aspek afektif dan kognitif tercampur berpadu dalam suasana kelas, aura positif bisa timbul dalam pembelajaran Cooperative Learning ini. Murid bisa lebih tertarik pada pelajaran yang diberikan, guru bisa lebih kreatif dalam mempersiapkan materi sehingga kegiatan yang ada menjadi lebih menyenangkan. Sehingga, murid bisa lebih termotivasi untuk belajar dan berpikir tentu saja pencapaian pembelajaran menjadi meningkat. Kemampuan non kognitif yang juga meningkat karena metode pembelajaran ini adalah : komunikasi, interpersonal dan juga love of learning.
Fisher, 1998 menuliskan : It was found that students developed more positive attitudes in classes where the teacher was perceived to be highly supportive, equitable, place a strong emphasis on understanding the work, were involved in investigations, showed leadership, helping-friendly behaviour and minimal admonishment of students.
Pembelajaran cooperative learning ini memiliki ciri khas dalam pembentukan kelompoknya. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Terkadang, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda. Karena lebih berorientasi pada individu, guru haruslah lebih cermat dalam membentuk kelompok sehingga hasilnya lebih optimal.
Teknik cooperative learning nya pun bervariasi, mulai dari mencari pasangan, bertukar pasangan, kepala bernomor, keliling kelompok, kancing gemerincing, dan dua tinggal dua tamu. Teknik ini ‘memaksa’ siswa untuk berkomunikasi, berinteraksi dan menyampaikan ide. Sehingga tidak ada satu siswapun terlewat dari teknik ini, semua berpartisipasi dan menyampaikan ide mereka.
Pada cooperative learning dikenal 4 tipe, yaitu : STAD, Jigsaw, Investigasi kelompok dan struktural. STAD (Student Team Achievement Division) dikembangkan oleh Slavin dimana siswa dalam kelompok kecil yang heterogen diharuskan untuk membantu satu sama lain dalam menyelesaikan materi pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi . Teknik Jigsaw yang dikembangkan oleh Eliot Arooson adalah model pembelajarn dimana kelompok siswa bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal. Teknik Investigasi Kelompok merupakan yang paling komplek dimana siswa terlibat dalam pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan penyelidikan yang mendalam, kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Think – Pair – Share dan Numbered Head together adalah 2 macam cooperative learning yang terkenal dalam tipe ini. Pendekatan dalam tipe ini memberi penekanan pada penggunaan struktur yang dirancang dalam mempengaruhi pola interaksi siswa. Dimana siswa diharapkan harus bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih menekankan pada penghargaan kooperatif daripada individual. Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagan.
Salah satu sekolah yang telah menerapkan metode pembelajaran ini secara menyeluruh adalah Bina Bangsa School . Sekolah yang mewajibkan gurunya untuk lebih kreatif dalam menerapkan metode pembelajaran ini, telah menuai hasil yang positif. Tidak hanya siswa yang menyukai bersekolah dan kemudian berprestasi, namun juga siswa yang mempunyai keunggulan komunikasi dan interpersonal. Kemampuan afektif tercermin dari siswa dimana siswa belajar menerima, merespon secara aktif, menghargai nilai nilai yang ada, dan juga menjadikan nilai nilai yang ada sebagai bagian dari pola hidup yang dimilikinya.
Pencapaian nilai yang tidak hanya ‘biasa’ tapi ‘luar biasa’ pada setiap ujian yang diikuti baik skala nasional maupun internasional, membuktikan bahwa metode ini tidak salah penerapan dan pelaksanaannya di sekolah ini. Sebut saja ICAS dengan pengahargaan distinctive selama 3 tahun berturut turut, IGCSE dengan beberapa siswa yang mampu mendapatkan penghargaan A* untuk beberapa mata pelajaran sekaligus, juga Top Scorer untuk salah satu mata pelajaran IGCSE se – Indonesia. Meskipun tergolong sekolah baru, bisa dikatakan tidak main main dalam menelorkan profil lulusan siswanya. Selalu memberikan yang terbaik dalam setiap kompetisi yang diikuti, juga memberikan hasil yang positif dimana piala dan sertifikat bisa dibawa pulang. Keunggulan kognitif tercermin dari setiap prestasi akademik yang dicapai oleh siswa di sekolah ini.
Tentu saja dengan hal hal positif yang didapatkkan kala menerapkan metode pembelajaran ini, bukan tidak mungkin hasil yang baik pun bisa terpetik. Tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, namun juga mempunyai akhlak yang mulia dalam bermasyarakat.
Anisti Riris, 2012.