Hampir 8 bulan ini kenyamanan bekerja kudapatkan. In a term of a working environment.
Tidak kutemui suara sumbang. Yang kutemui hanya dorongan, saran untuk melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Tapi, sungguh…
aku rindu sekali dengan apa yang kulakukan dulu. Teman mungkin tak banyak. Tapi jiwa yang kupunya berdansa dengan indah..
Sampai saat ini yang teringat dengan jelas adalah tangisan sebelum dan sesudah pulang kerja. Mendengar komentar yang tidak jelas namun pedas, mengada – ada dan entah apa yang ada di benak mereka.
Teringat kejadian terakhir yang membuatku patah arang. Kupikir cukup untuk berada di sana.
Aku didiamkan. huh! bingung aku…
dan nilai yang harusnya 3 harus kubuat jadi 7. sungguh, aku ini sadar begitu idealisnya diriku sehingga mengubah nya pun aku enggan.
Bukan nilai baik yang ingin kuberikan. Tapi kemauan untuk belajar dan melakukan yang terbaik itu yang akan sangat aku hargai.
Aku tak bisa. Aku diminta meminta maaf. Aku enggan. Salahpun tidak kulakukan. Idealis dan prinsip diri yang kupegang teguh. Salahkan aku jika aku hengkang? Jika akhirnya tak kudapati ada yang mendukungku?
Muka palsu yang kuterima cukup meningkatkan stress kerjaku.
Eat the position.. i dont want.
Im working because im serving. Not because i want the position..
…delapan bulan telah berlalu. tapi jiwaku tak berdansa sama.
Tubuh lebih baik kuterima.
tapi tak kudapati jiwaku menari…