Aku teringat,
ketika kelas 1 sd.. ada begitu banyak hal baru yang aku temui. Dengan sabarnya guruku mengajariku, menjelaskan kepadaku sehingga aku mengerti. Aku belajar menulis, aku belajar berteman.. dan aku bahagia mempunyai banyak teman.
Ketika hampir selesai kuliah,
aku berpikir tak perlu lagi belajar.. setelah ini konsentrasi kerja.. Dan aku bersemangat memasuki dunia baru yang begitu menantang. Mereka bilang, dunia kerja itu hutan. Setiap kali ada orang baru yang datang mereka akan berteriak… “Welcome to the jungle!” Tak sabar ingin kubuktikan bahwa seganas apapun hutan itu pasti bisa kutaklukan. Aku sudah tamat kuliah dan aku siap menghadapinya.
Ternyata hutan itu memang benar menantang, sering kali aku hampir kalah. aku patah semangat. dan aku berpikir aku tak sanggup. Hanya masih saja kutemui orang orang yang mengatakan, ‘Inilah kuliah kehidupan. Dimana belajar tidak akan pernah berhenti. Banyak yang bisa dipelajari dan akan menjadikanmu seseorang yang bisa berarti.’
Kutelan mentah mentah arti kata ‘berarti’, aku berusaha menjadikan diriku menjadi seseorang yang baik. Begitu mendengarkan orang lain. Begitu berusaha menolong. Begitu bersikap baik. Agar aku menjadi seseorang yang berarti.
Tapi aku menipu diriku. Aku tidak bahagia. Aku menyenangkan semua orang, tapi aku terluka. Aku membuat orang bahagia dengan jawabanku tapi aku berbohong. Aku hanya ingin menyenangkan mereka, agar aku begitu berarti dalam kehidupan mereka. Kritik membuatku patah hati. Seberapapun aku berusaha dan masih juga tak berarti? Seberapapun aku berniat baik tapi juga masih tak berarti? Aku benci orang orang yang mengkritikku. Mereka membunuhku. Mereka membuatku tak berarti. dan aku semakin merasa tak berarti
Merenung aku memikirkan kata berarti.
Aku sungguh ingin berarti. Ternyata teman yang baik bukanlah selalu memberikan yang baik. teman yang baik adalah teman yang berusaha menjadikan mu menjadi orang lebih baik. Ah, kritik kritik itu pikirku. Mungkin aku harus menanggapinya dengan cara lebih positif. Sehingga aku bisa begitu berarti bagi diriku.
Aku begitu berarti bagi diriku. Bukankah itu kuncinya?
Ketika kita berarti bagi diri kita, bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan pada kita. kita berarti di hadapan Tuhan. Juga, memberikan yang terbaik bagi Tuhan, karena kita berharga di matanya. Tulus melakukan yang terbaik tanpa mempunyai niat untuk menjadi seseorang yang berarti.
Dan sungguh aku melihat perbedaannya, aku benar benar berarti…
sebuah pembelajaran yang menyenangkan hari ini.