Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional – Catatan perjalanan

…”kok bisa sih dia yang menang?” (tanpa mengurangi rasa hormat, i’m not going to tell you the name..) itu adalah ungkapan dari beberapa pemenang lomba story telling..

UNPROFESSIONAL mungkin itu adalah satu kata untuk menggambarkan juri lomba story telling yang tingkatnya nasional. Lebih lucu lagi, sehari sesudah pengumuman pemenang, beredar joke.. “Good morning participants, ladies and gentleman and or course the honourable unprofessional juries..” di kalangan para peserta.  how pathetic

Tidak. Saya sedang tidak sakit hati. Yang saya tulis adalah sebuah fakta berdasarkan foto yang saya ambil. Tidak. Saya juga tidak ingin menjadi juara pertama. Menurut saya, dari seluruh kontestan, yang berhak juara pertama adalah Ida Ayu Bika Alice Padada, wakil kontingen bali. She amazed me.

Tapi mari kita tilik persoalannya dulu.. Story Telling, adalah teknik mendongeng dengan tentu saja bahasa inggris. Dalam mendongeng, penguasaan bahasa inggris tentu saja merupakan modal utama. Hanya saja, karena ini story telling, bukan hanya those who can speak english fluently will win. Mereka, yang bisa memukau penonton, menghipnotis, memasukkan penonton dalam jiwa cerita mereka, membuat penonton mengerti, itulah yang penting. Bukan hanya sekedar gedebak gedebuk ke sana kemari dengan gerakan tidak perlu . Penguasaan panggung adalah hal yang utama. Moving, Blocking, Position, Intonation, Expression.. Bukan hanya sekedar monolog.. berakting juga terlibat di dalamnya.

Lomba story telling ini masuk dalam jajaran festival lomba seni dan sastra nasional (fls2n) yang untuk smp diadakan di kampus STSI Bandung. Pertama kali saya menginjakkan di kampus STSI Bandung, saya terhenyak. ” Gedung tengah rusak.. kok ya ga di renov dulu baru di tampilkan buat fls2n..” Ini bukan masalah STSI nya, tapi masalah panitia, maaf ya.. kami datang dari jauh.. bahkan ada yang dari papua.. hotel sih oke.. tapi tempat lomba.. alamak…. jauh dari ungkapan layak untuk lomba bertaraf nasional. Mungkin ok kalo di situ tapi.. kalo gedung tengah bekas teater itu di benahi dulu, di bereskan, di bersih kan.. supaya peserta bisa bersantai di dalam dengan keadaan nyaman.. atau….  tidak ada anggaran? ah masa sih? Untuk toiletnya mending lah, kalau pagi bau wipol.. ok.. tapi.. begitu mau di pakai tidak ada kuncinya! cuape deh…..

Gedung tidak perlu mewah kok, atau lux, tapi setidaknya bersih, terawat dan ga malu maluin.. coba yang datang dari jauh.. sampai ke tempat lomba apa yang mereka pikirkan.. bisa jadi..’not going to recommend this institution’.. padahal lomba bertaraf nasional itu sebenarnya kan merupakan promosi tersendiri bagi institusinya.. supaya banyak mahasiswa untuk angkatan berikutnya…

Dua tahun lalu waktu jawa tengah menggelar lomba story telling yang diadakan di Hotel Quality (saat itu masih Quality Hotel – sekarang Grand Wahid), peserta di karantina di satu ruang yang khusus. benar benar pelatih tidak bisa masuk. dan mereka diatur dengan cara yang sedemikian profesional sehingga, dipanggil satu satu masuk ke tempat lomba penyisihan.. (oh iya saat itu ada 3 pool) Jadi, peserta masuk satu per satu ke pool di panggil oleh panitia. Bahkan, yang membuat saya bangga setengah mati karena peraturannya ketat. Tidak boleh tepuk tangan di tengah pertunjukkan, tidak boleh keluar masuk ruang lomba pada saat peserta sedang mempertunjukkan kebolehannya berstory telling, tidak boleh menyalakan hape.. benar benar menghargai dan mendukung peserta untuk berkonsentrasi.. Juri saat itu duduk di meja dan kursi yang disediakan. penonton juga duduk di jumlah kursi yang terbatas. coba perhatikan lomba tingkat nasional ini. Juri duduk lesehan dan penonton juga boleh keluar masuk sekenanya, boleh menyalakan hape.. dan boleh telpon di dalam (lha wong jurinya aja telpon di tengah pertunjukan.. oh HOW UNPROFESSIONAL!)

Saat technical meeting, masih merupakan sebuah dikusi yang alot. Ga fix. bahkan beberapa yang sudah disepakati malam itu tiba tiba di hari h berubah lagi.. (halah…piye to bu.. bu..).

Yang menarik adalah kondisi lomba. Lomba final story telling di mulai pukul 9. Ketika saya pergi ke kesekretariatan, jam 9 kurang 5. Believe it or not, belum ada satu panitia pun, yang ada di meja sekretariat. Apabila mereka ditanya untuk informasi, mulai saling melempar ke sana dan kemari. Oh come on.. ini sekretariat tingkat nasional man! Ga perlu melempar tanggung jawab bos…, sekretariat perlu tahu semua informasi yang terjadi hari itu….Satu hal yang salut pada jam 9 pagi itu, ternyata sie konsumsi sudah on the spot. membagikan ransum untuk snack pagi. Memang urusan perut tidak bisa di nomor duakan ya?

Mungkin malam ini cukup itu dulu.. saya masih mempunyai gambar yang menarik selama pelaksanaan penilaian juri waktu final. Mulai dari juri ngobrol sendiri, juri telpon dan juga juri makan.. selama mereka menilai. Apakah itu sesuatu yang professional bagi seorang juri bertaraf nasional? anda yang menentukan nanti saat melihat foto yang saya upload berikutnya.

 

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.